Banyak Sampah Usai MotoGP Mandalika, Kenapa Sulit Membangun Budaya Buang Sampah pada Tempatnya?

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Soal sampah yang berserakan di tribune penonton usai perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhir pekan lalu mendapat sorotan sejumlah pihak.

Salah satunya pegiat lingkungan asal Kota Solo, Jawa Tengah, Denok Marty Astuti.

Denok mengatakan, membangun budaya buang sampah pada tempatnya butuh perjuangan keras dan melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah pusat maupun daerah.

Pemerintah, dalam hal ini adalah pemegang kebijakan, mampu mengatur dan mengelola soal sampah.

Baca juga: Perluas Pencarian Korban Mobil Jatuh ke Sungai di Tana Toraja, Tim SAR Terkendala dengan Sampah Bambu

Di sisi lain, kata Denok, edukasi bagi masyarakat terus dilakukan demi mendukung program pemerintah tersebut.

“Warga harus teredukasi dengan baik apa permasalahan yang dihadapi daerah, perlunya peduli sampah, perlunya pengetahuan mengelola sampah, dibarengi dengan latihan, dan kebijakan pastinya. Kenapa perlu latihan? Kalau tidak dilatih ya tidak mungkin terjadi dan budaya baru sulit terjadi,” katanya.

Sementara itu, Denok mengaui, merubah perilaku masyarakat agar tidak buang sampah sembarangan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

“Perilaku adalah budaya. Membangun budaya tidak bisa instan,” katanya kepada Kompas.com.

Baca juga: Banyak Sampah di Tribune Penonton MotoGP Sirkuit Mandalika, Sesulit Apa Buang Sampah pada Tempatnya?

Related posts