12 February 2021 : 08.29

Christian Hadinata: Saya Tak Pernah Dapat Perlakuan Rasial

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram
Share on facebook

Jakarta, CNN Indonesia —

Sebagai legenda badminton Indonesia, Christian Hadinata mencetak banyak prestasi membanggakan dalam kariernya.

Sebagai pemain, Christian menorehkan banyak gelar seperti medali emas ganda campuran Asian Games 1974 bersama Regina Masli, medali emas ganda putra Asian Games 1978 bersama Ade Chandra dan juara ganda campuran All England tahun 1979 berduet dengan Imelda Wiguna.

Christian juga meraih banyak sukses sebagai pelatih. Deret atlet diantarkan Christian meraih puncak prestasi karier, seperti Eddy Hartono/Gunawan yang meraih medali perak di Olimpiade 1992 Barcelona, kemudian disusul medali emas Ricky Subagja/Rexy Mainaky empat tahun berikutnya.

Sebagai keturunan etnis Tionghoa, Christian Hadinata terus menunjukkan bukti cintanya buat Indonesia.

Apakah seorang Christian Hadinata pernah mengalami kejadian rasial sebagai keturunan etnis Tionghoa? Seperti apa pandangan sosok yang akrab disapa Koh Chris itu terkait atlet badminton etnis tionghoa di Indonesia?

Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Christian Hadinata alias Tjhie Beng Goat:

1. Anda lahir di 1949 dan kemudian pada 1950-an ada migrasi besar-besaran warga etnis Tionghoa di Indonesia kembali ke China. Apa yang diingat Koh Chris saat itu?

Dulu ada peraturan yang mengharuskan untuk memilih [kewarganegaraan]. Orang tua waktu itu sudah jadi WNI [Warga Negara Indonesia].

Legenda Bulutangkis ganda putra Indonesia, Christian HadinataChristian Hadinata meraih banyak sukses sebagai pemain dan pelatih. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)

Kalau kaitannya sama badminton saya ingat beberapa pemain-pemain yang waktu itu terbaik yang kita punya pulang ke China, Tang Xianhu, Tong Sin Fu, Hou Jia Chang. Mereka seingat saya sudah jago saat itu. Justru mereka yang membangun bulutangkis di China.

2. Bagaimana kehidupan sebagai warga Indonesia etnis Tionghoa di Purwokerto saat itu?

Kota kecil relatif tidak ada masalah dan saya juga bergaul dengan teman-teman dari kampung sekitar saya. Main sepak bola, layangan, kelereng sudah tidak ada jarak, tidak ada masalah apapun, rukun-rukun saja. Tidak ada persoalan sekali. Masa-masa sekolah main ya anak laki-laki semua.

Saya tinggal di Desa namanya Kauman Lama, Kebon Dalam. Saudara saya masih ada yang di sana. Waktu audisi PB Djarum di Purwokerto, saya pernah menyempatkan datang menengok bekas rumah kecil saya. Dulu rumah saya bersebelahan dengan sekolah, sekarang rumah saya sudah jadi sekolah yang diperluas.

3. Apa latar belakang keluarga Christian Hadinata?

Masing-masing punya talenta, bakat. Saya memang dari SD, SMP, SMA senangnya olahraga. Dan ayah seorang pendidik, guru sekolah bukan pebisnis. Yang lain saudara lebih memilih kaitannya dengan akademi, sekolah jadi dokter insinyur elektronik, tidak ada yang jadi pebisnis.

[Gambas:Video CNN]

Keluarga saya tidak ada turunan bisnis. Ada yang ikut ayah jadi pendidik. Saya juga jadi guru, jadi pelatih badminton. Seumur-umur saya tidak pernah mencoba bisnis. Dunia saya badminton sejak dulu sampai sekarang.

4. Kapan mulai mengenal badminton dan kapan mulai serius ingin jadi atlet badminton?

Dari SD, SMP saya sudah main badminton. Ya lingkungan yang mengenalkan saya dengan badminton. Mulai serius karena lihat Tan Joe Hok jadi juara All England pada 1958. Dia jadi pebulutangkis pertama asal Indonesia yang jadi juara All England.

Kagum juga saya badminton bisa bersaing dengan orang luar negeri. Jadi sosok Tan Joe Hok jadi inspirasi, meskipun waktu itu saya sempat hampir menyerah, dalam arti dulu badminton buat keluarga itu jadi olahraga yang mahal banget.

Raketnya tidak punya, sepatu saja tidak punya. Mau beli mahal, ayah ibu tidak mampu buat modalin main badminton. Tapi jalan keluar muncul ketika saat mewakili sekolah main badminton hadiahnya dapat raket, sepatu, dapat kaos.

Sixth seed men's double badminton team Rexy Mainaky (L) and partner Ricky Ahmad Subagdja (R) of Indonesia collide as they return a shot to opponents Martin Lundgaard Hansen and Lars Paaske of Denmark 17 September 2000 at the Sydney Olympics.  The Indonesian pair won the preliminary round match 15-9, 13-15, 15-7. AFP PHOTO/Robyn BECK (Photo by ROBYN BECK / AFP)Ricky/Rexy menjadi salah satu pemain asuhan tersukes Christian Hadinata. (ROBYN BECK / AFP)

Waktu itu saya tidak akan main badminton kalau tidak diajak teman. Teman saya lebih mampu dari segi ekonomi, jadi dia yang modalin saya pinjam.

Orang tua saya utamanya pendidikan dulu, karena ayah saya guru SD, jadi nomor satu sekolah dulu. Tapi mereka tidak melarang saya karena lingkungan juga main badminton.

5. Dorongan apa yang membuat Christian Hadinata yakin badminton bisa jadi jalan hidup? Apa juga dipengaruhi keberhasilan atlet etnis Tionghoa sebelumnya seperti Tan Joe Hok?

Ya keberhasilan Tan Joe Hok jadi juara All England itu. Saya baca di surat kabar, dia hebat banget. Setelah itu mulai ada cita-cita juga jadi pebulutangkis. Tapi ya itu, sempat redup karena tidak ada modal.

Sama sekali tidak ada bayangan memilih badminton jadi jalan hidup dan bisa jadi begini. Titik baliknya itu ketika kakak saya di Bandung memanggil saya untuk kuliah di Bandung. Sejak itu lebih teratur latihannya, kakak saya yang mengurus semuanya. Anter latihan, menemani, membelikan raket, itu sekitar 1968-1969 waktu saya masuk Sekolah Tinggi Olahraga di Bandung.

6. Dalam perjalanan menuju atlet terkenal, pernahkah Christian Hadinata mengalami perlakuan rasial?

Tidak pernah sama sekali. Tidak pernah saya ingat ada kejadian seperti itu. Dulu teman-teman kuliah di Bandung juga berbeda, tapi penerimaan dan sikap mereka terhadap saya baik banget.

[Gambas:Video CNN]

Bahkan saat saya mulai menjalani pertandingan dan saya jadi juara All England, saya diundang main ke kampung mereka. Mereka kaget saya bisa jadi juara 1972 itu, mereka langsung menawarkan untuk main ke kampung mereka, memberanikan diri ajak saya menginap di rumah mereka.

7. Banyak cerita pebulutangkis legendaris soal kesulitan membuat identitas. Bagaimana cerita Christian Hadinata soal SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) dan KTP?

Saya ingat, saya mengurus paspor semua lancar-lancar saja. Saya mengurus surat kewarganegaraan di Pengadilan Negeri Purwokerto, urus paspor di imigrasi Bandung juga lancar-lancar aja. Dulu harus memilih itu.

8. Salah satu kemenangan fenomenal Christian Hadinata adalah di Kejuaraan Invitasi Asia ketika mengalahkan ganda China yang jadi bukti Indonesia lebih hebat dari China di 1976. Bagaimana Christian Hadinata mengenang hal itu?

Ya memang kalau bicara soal lawan, negara yang kuat itu China. Memang bisa dikatakan saya paling babak belur kalau lawan China, saya sering banget ketemu mereka.

China itu sempat memisahkan diri tidak masuk IBF [International Badminton Federation]. Waktu itu saya main di Bangkok, Thailand bareng Iie Sumirat mengalahkan Tong Si Fu.

Memang dulu peta persaingan bulutangkis itu berubah dengan China memisahkan diri. Jadi kita lebih sering ketemu pemain Eropa dan negara Asia lain. Jadi kalau juara rasanya biasa saja karena tidak mengalahkan China, karena di tunggal putri, ganda putra/putri dan campuran luar biasa.

Jadi setiap kali ketemu di arena resmi, seperti Asian Games, Kejuaraan Invitasi Asia, tentu kami jadi sangat termotivasi untuk mengalahkan China dan jadi juara yg lebih lengkap karena mengalahkan China.

Momen Menegangkan Piala Thomas 1998


BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Related Post

Contact Us

Contact us

FAQ

Advertise with us

About Us

Cookie Policy

Terms & Condition