3 March 2021 : 02.29

Indonesia, Kado Tuhan untuk Luciano Leandro

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram
Share on facebook

Jakarta, CNN Indonesia —

Halo teman-teman di Indonesia, apa kabar? Saya Luciano Leandro. Orang-orang Indonesia mengenal saya sebagai pemain sepak bola di PSM Makassar dan Persija Jakarta.

PSM dan Persija memang menjadi bagian dalam hidup saya. Tidak terpisahkan. Kedua klub memiliki tempat di hati saya. Jadi jika ada yang bertanya, pilih PSM atau Persija? Maka saya tidak bisa menjawabnya.

Saya punya memori yang tak terlupakan di kedua klub itu. Bagaimana mungkin saya bisa memilih jika dua-duanya ada di dalam hati saya? PSM dan Persija adalah kuasa Tuhan yang membuat saya terkenal.

Cerita manis soal PSM dan Persija nyatanya diawali cerita yang pahit. Saya yang semula bermain sepak bola di Brasil kemudian mendapat tawaran dari agen untuk bermain di Indonesia.

Saya tidak tahu apa-apa soal Indonesia waktu itu. Selain itu saya juga masih punya kontrak dengan klub Bangu yang memiliki prestasi cukup bagus. Saya tidak terima tawaran agen dan tetap bermain di Brasil.

Pada 1995 Bangu mengalami masalah finansial, mereka tak bisa membayar saya secara penuh. Problem itu membuat saya mulai berpikir meninggalkan klub. Kebetulan tawaran dari agen untuk bermain di Indonesia datang lagi. Saya pun tidak pikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan agen tersebut.

Apalagi agen itu bilang saya sudah dijanjikan bermain di sebuah klub dan dapat kontrak besar dari klub di Indonesia tersebut.

Tetapi ternyata saya ditipu. Agen bohong soal kepastian bermain dan kontrak besar. Saya belum punya klub waktu datang ke Indonesia, jadi tidak ada itu kontrak besar. Saya harus seleksi dulu sebelum main.

Saya kesal dengan kondisi itu, tetapi saya tidak bisa balik ke Brasil. Di balik situasi sulit saat itu saya punya tekad untuk bisa sukses di Indonesia. Saya harus bisa, saya harus yakin.

[Gambas:Instagram]

Setelah ikut tes saya akhirnya bisa bermain untuk PSM. Satu jalan sudah terbuka, tetapi ada banyak hal lain yang harus saya lewati, salah satunya adalah adaptasi.

Harus saya akui Indonesia masih sangat asing buat saya. Ribuan kilometer dari Brasil. Waktu itu belum ada internet seperti sekarang. Untuk telepon ke Brasil bisa, tetapi mahal sekali.

Saya beruntung dikelilingi orang-orang baik yang bersahabat dan menganggap saya sebagai keluarga. Di PSM saya begitu diterima dengan baik. Saya mau apapun, teman-teman dan tim pasti selalu membantu.

Selain teman-teman dan keluarga besar PSM, salah satu cara saya beradaptasi dengan Indonesia adalah makanan. Saya suka sekali seafood dan di Makassar saya setiap hari makan ikan. Tetapi makan ikan terus saya bosan juga. Waktu itu saya belum bisa bahasa Indonesia, jadi saya mau minta makanan lain seperti daging ayam atau sapi saya harus menggunakan bahasa isyarat…hahaha.

Saya baru bisa mengerti pelan-pelan bahasa Indonesia setelah enam bulan di Makassar.

Untuk adaptasi di dalam lapangan saya tidak terlalu masalah. PSM dan saya punya kesamaan, selalu ingin menang dan memberikan yang terbaik. Salah satu cara saya memberi yang terbaik untuk PSM selain berusaha maksimal di dalam lapangan adalah saya berusaha meyakinkan Jacksen F. Tiago bergabung ke PSM.

[Gambas:Video CNN]

Kebetulan saya pernah bermain dengan Jacksen di Brasil, tetapi Jacksen pergi lebih dulu ke Indonesia. Kemudian saya bersama Marcio Novo, pemain PSM yang datang dari Brasil bersama saya, membantu PSM mendatangkan Jacksen. Jacksen hanya satu musim di Makassar dia kemudian ke Persebaya Surabaya.

PSM kalau saya bilang adalah tim yang punya karakter kuat. Kerja sama tim yang kompak di dalam dan di luar lapangan adalah kelebihan tim itu. Satu yang saya tidak lupa, PSM itu punya ciri khas bermain keras, tetapi bukan kasar dan tetap fair play. Saya menulis ini sambil teringat kawan-kawan dulu seperti Ali Baba, Ansar Razak dan lainnya.

Saya tidak dapat gelar juara di PSM, tetapi PSM memberi saya segalanya. Dua hal yang tidak akan pernah saya lupa adalah pernikahan saya dan kelahiran anak saya terjadi di Makassar.

Manajemen memberi saya tiket untuk mendatangkan kekasih saya, Denise, yang sekarang menjadi istri saya. Waktu itu dia datang bersama teman wanitanya yang kemudian menjadi istri dari Marcio Novo. Kami berdua dinikahkan dan dirayakan di sana.

Kelahiran anak pertama saya, Yasmin, juga di Makassar. Waktu itu dua hari sebelum hari kelahiran saya harus tinggalkan istri saya di Makassar karena PSM harus bermain Piala Winners Asia di Korea Selatan.

Itulah alasan mengapa saya kemudian memberi nama hotel saya Hotel Makassar di Macae, Brasil.

Banner Testimoni

Apakah itu berarti saya tidak cinta Jakarta? Tidak begitu, friend. Di Jakarta banyak kenangan manis juga. Banyak cerita-cerita menyenangkan.

Tentu gelar juara adalah salah satunya. Bersama Persija pada 2001 itu sangat tidak terlupakan. Kami juara di Liga Indonesia, dan kami juga juara di Piala Toyota di Brunei Darussalam. Musim yang luar biasa.

Bersama Persija di Brunei, selain menjadi juara, saya juga menjadi top skor dan pemain terbaik. Waktu itu pertandingan Persija di Brunei disiarkan sampai Brasil. Jadi setelah saya mencetak gol, saya mendapat banyak telepon dari teman-teman dan keluarga.

“Luci kamu cetak gol, itu bagus sekali, saya lihat itu,” kata teman-teman yang menelepon saya waktu itu. Saya bangga sekali.

Kalau berbicara soal perbedaan PSM dan Persija tidak banyak. Sama seperti PSM, Persija kompak, tim yang bekerja keras, namun di Persija ada lebih permainan teknik.

Untuk tekanan saya rasa tidak ada yang lebih berat. PSM dan Persija sama-sama haus kemenangan. Ada suporter-suporter fanatik yang sungguh gila. Buat saya tekanan itu tidak masalah.

Untuk kehidupan luar lapangan saya tidak menemui kesulitan di Jakarta. Karena saya sudah bisa bahasa Indonesia, saya juga sudah pernah tiga musim di PSM, dan saya juga suka kehidupan di Ibu Kota.

Mantan Pemain Persija Jakarta Luciano Leandro dan Sofyan HadiLuciano Leandro ketika bertemu dengan (alm) Sofyan Hadi, pelatih yang membawa Persija juara Liga Indonesia 2001. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)

Soal kepindahan dari PSM ke Persija tidak lepas dari kerusuhan 1998. Waktu itu liga sudah berjalan tetapi berhenti. Pemain-pemain pulang kampung. Saya balik ke Brasil.

Setelah musim baru mau dimulai, saya tidak ada ikatan kontrak lagi dengan PSM. Kemudian dari Persija ada bapak Gubernur Sutiyoso telepon saya dan dia bertanya, “Kamu mau bermain untuk Persija?”

Karena saya tidak ada kontrak lagi dengan klub manapun, jadi saya jawab telepon pak Sutiyoso dan akhirnya saya bergabung dengan Persija.

Macan Kemayoran, Juku Eja, dan Indonesia adalah hadiah dari Tuhan untuk saya. Cara orang-orang Indonesia menerima saya dan bagaimana saya dipandang sebagai idola adalah prestasi saya yang terbaik. Nilainya lebih dari trofi atau gelar juara apapun.

Saya senang sekali bisa mendapat banyak teman, tidak hanya pelatih dan pemain, tetapi juga ada dari media dan lainnya yang mengingat saya sampai sekarang.

Karena itu saya menolak tawaran klub-klub luar Indonesia yang sempat menawari saya bergabung ketika saya masih bermain di PSM dan Persija. Kalau tidak salah ingat ada klub dari Singapura, Brunei, dan Malaysia yang sudah menghubungi saya.

Perbedaan Sepak Bola Brasil dan Indonesia: Batu dan Suporter


BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Related Post

Contact Us

Contact us

FAQ

Advertise with us

About Us

Cookie Policy

Terms & Condition