Perbedaan Pendapat Pebalap MotoGP Soal Fitur Holeshot

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Sejak diperkenalkan Ducati, perangkat holeshot device segera jadi bahan perbincangan di MotoGP. Meski awalnya sinis tapi kemudian juga dipakai pabrikan lain.

Awalnya alat ini hanya digunakan pada saat start untuk membantu mengurangi resiko terjadinya roda depan terangkat atau wheelie. Sehingga motor lebih baik dalam berakselerasi.

Sistem ini kemudian terus dikembangkan, hingga akhirnya Ducati juga menggunakan alat ini di tengah balapan. Khususnya pada saat motor keluar tikungan.

Baca juga: Pengelolaan Limbah Baterai Kendaraan Listrik Jangan Seperti Aki Bekas

Fabio Quartararo saat sesi tes pra-musim MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika, LombokDok. Yamahamotogp.com Fabio Quartararo saat sesi tes pra-musim MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika, Lombok

Kini musim 2022 Ducati ingin menggunakan ride height system pada roda depan. Tujuannya tetap sama seperti sebelumnya. Tapi banyak ditentang oleh pabrikan lain karena dianggap buang riset.

Diskusi yang mencuat ialah soal keselamatan vs performa, dan dari sisi pebalap melihatnya dari sisi risiko vs hasil. Ada yang menganggap teknologi ini jadi berlebihan.

“Bagi saya itu mulai terlalu banyak. Bagi saya di 2019 prosedur awal hanya Anda tiba di netral, tekan kontrol peluncuran dan pergi (start). Sekarang Anda perlu memeriksa terlalu banyak hal. Pada akhirnya Anda menang (lebih kencang), tetapi bagi saya itu mulai terlalu berlebihan,” kata Fabio Quartararo mengutip Crash.net, Jumat (4/3/2022).

Baca juga: Soal Kemacetan di Puncak, Kemenhub Bakal Evaluasi MRLL

Joan Mir saat berlaga pada MotoGP San Marino 2021. (Photo by ANDREAS SOLARO / AFP)ANDREAS SOLARO Joan Mir saat berlaga pada MotoGP San Marino 2021. (Photo by ANDREAS SOLARO / AFP)

 

Juara dunia 2020, Joan Mir juga sependapat dengan Quartararo. Sistem ini membuat pebalap mesti memikirkan banyak hal, kemudian motor terlalu kencang juga lebih berbahaya.

“Saya bersama Fabio. Bagi saya itu mulai berlebihan,” katanya.

“Setiap kali kami tiba lebih cepat di trek lurus, kami akan segera mencapai 370 km/jam. Tata letaknya sama dan yang pasti performanya lebih baik,” katanya.

“Juga, di sisi akselerasi, lebih sulit untuk membuat perbedaan. Jika Anda menggunakan semuanya, maka performanya lebih banyak, tetapi itu bukan hal terbaik untuk keselamatan,” ungkapnya.

Related posts