6 September 2021 : 02.27

Richard: Saya Tak Sedih Meninggalkan Pelatnas Cipayung

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram
Share on facebook

Jakarta, CNN Indonesia —

Pelatih ganda campuran bulutangkis Indonesia, Richard Mainaky memutuskan untuk pensiun dari pelatnas PBSI Cipayung. Surat resmi pengunduran diri, disampaikannya per hari ini, Senin (6/9).

Richard menyebut pengabdiannya selama 26 tahun buat bulutangkis Indonesia sudah dirasa cukup. Kini, ia menyebut akan menghabiskan banyak waktunya bersama keluarga di Manado, Sulawesi Utara.

Sepanjang kariernya sebagai pelatih nasional ganda campuran, ia sudah mempersembahkan dua medali perak Olimpiade melalui Trikusharjanto/Minarti Timur di Sydney 2000, Nova Widianto/Lilyana Natsir di Beijing 2008 dan satu emas di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 melalui pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Tak hanya itu, tangan dingin Richard Mainaky juga berhasil menyumbangkan empat gelar juara dunia bulutangkis buat Indonesia dari ganda campuran. Mereka adalah Nova Widianto/Liliyana Natsir 2005 dan 2007 serta melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir 2013 dan 2017.

Richard juga mampu mencetak gelar bergengsi dari All England melalui para atlet binaannya yaitu Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (2012, 2013 dan 2014), Praveen Jordan/Debby Susanto (2016) dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (2020).

Richard MainakyRichard Mainaky sudah 26 tahun jadi pelatih di Pelatnas Cipayung. (detikcom/Grandyos Zafna)

Bagaimana perasaan Richard Mainaky saat memutuskan untuk pensiun? Apa yang akan dilakukan pelatih 56 tahun itu pasca pensiun?

Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com bersama Richard Mainaky:

Apa alasan Anda untuk memutuskan pensiun dari PBSI saat ini?

Secara lisan minggu kemarin saya sudah bilang ke Rionny Mainaky (Kabid Binpres PP PBSI) dan Pak Alex Tirta (Ketua Harian PP PBSI). Semua baik-baik dan lancar. Hari ini surat resmi sudah saya kasih.

Saya rasa, saya sudah cukup yah. Niat pensiun itu kan awalnya setelah Olimpiade 2020 kemarin. Tapi tertunda karena pandemi. Jadi Olimpiade juga ditunda ke 2021 dan saya tertunda sampai hari ini.

Apakah berat bagi Anda untuk memutuskan pensiun dari PBSI?

Saya tidak merasa berat memutuskan pensiun, karena sudah punya rencana matang. Selama 26 tahun waktu untuk keluarga sangat sedikit sekali, itu otomatis karena saya tanggung jawab sama kerjaan saya. Jam 6 pagi saya sudah sampai di Cipayung, jam 7 paling telat dan pulang sudah malam jam 7 malam. Sekarang keluarga sudah ingin pindah ke kampung, jadi saya kali ini harus ngalah.

Saya sudah mengabdi buat PBSI dan berkorban waktu untuk keluarga, sekarang waktunya saya harus memilih waktu untuk keluarga.

Apakah ada rasa sedih meninggalkan Cipayung?

Tidak sedih karena saya sudah menyiapkan pelatih selanjutnya. Ada Nova Widianto, Amon Sunaryo, Muhammad Rijal kan mereka bekas anak buah saya. Jadi saya yakin tidak sedih karena pola-pola latihan saya mereka sudah tahu persis.

Saya sudah berbuat yang terbaik untuk PBSI jadi saya rasa bangga dari 1995 ke 2021 sudah kasih banyak medali juara. Kecuali kalau belum berikan apa-apa ya saya pasti sedih dan kecewa. Saya puas dan bangga sudah memberikan yang terbaik buat PBSI.

Apa kenangan paling indah selama Anda berada di PBSI?

Pertama, atlet-atlet ini sangat menghargai saya. Sangat patuh dan hormat sama saya. Kedua, akhirnya dengan kerja sebagai pelatih di PBSI saya bangga sekali bisa memberikan banyak prestasi. Mencetak 2 medali perak dan satu medali emas di Olimpiade, 4 kali juara dunia dan 5 gelar All England.

Adakah kenangan buruk yang Anda alami selama di PBSI?

Waktu di Olimpiade Sydney 2000 karena harusnya emas di tangan terus jadi perak. Olimpiade Beijing 2008 juga. Bahkan itu harusnya bisa All Indonesian final, peluangnya besar, tapi dapat perak lagi. Jadi harusnya saya bisa tiga kali dapat emas Olimpiade. Tapi kurang beruntung dan saya sempat merasa gagal.

Siapa pemain bulutangkis yang paling berkesan buat Anda?

Setiap regenerasi, pemainnya lain-lain dan semua berkesan karena mereka sangat patuh, otomatis kalau kita bicara prestasi selalu ada juara. Semua pemain saya ajak diskusi supaya mereka bisa ada kedekatan. Tapi bahan diskusinya dipilih-pilih juga.

Biasanya dengan pemain senior seperti Trikus, Minarti, Vita Marissa, Butet (Liliyana Natsir), Owi (Tontowi Ahmad), Nova (Widianto), Debby (Susanto) dan Praveen (Jordan) kita bicara soal kehidupan setelah badminton. Mereka kan sudah senior, sudah memikirkan hal lain di luar badminton.

Kalau sama yang muda, junior seperti Melati ya bicaranya masih soal bagaimana dia masih muda harus banyak dapat prestasi dulu. Kita bantu karena kan mereka juga tidak ketemu orang tuanya, jadi kita sebagai pelatih juga harus bertanggung jawab menggantikan peran orang tuanya.

Baca lanjutan artikel ini di halaman berikut >>>

Giliran Mengalah untuk Keluarga


BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Contact Us

Contact us

FAQ

Advertise with us

About Us

Cookie Policy

Terms & Condition