4 August 2021 : 02.28

Wahyana, Guru SMP Raih Mimpi Pimpin Final Olimpiade Tokyo

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram
Share on facebook

Jakarta, CNN Indonesia —

Indonesia memang gagal mengirim wakilnya ke final tunggal putri badminton Olimpiade Tokyo 2020. Namun, setidaknya Wahyana, wasit Indonesia asal Sleman, menjadi saksi drama sengit tersebut.

Wahyana bertugas dengan maksimal saat Chen Yu Fei dari China mendulang medali emas usai menumbangkan Tai Tzu Ying asal Taiwan di laga final, Senin (3/8). Ia menjadi saksi drama sengit berdurasi 81 menit itu.

Jika medali emas adalah incaran setiap atlet, maka memimpin jalannya laga di Olimpiade merupakan mimpi bagi tiap wasit. Wahyana, berhasil mewujudkan impiannya satu tahun jelang memasuki masa pensiun.

“Semua wasit itu mendambakan bisa bertugas di Olimpiade karena ini merupakan event tertinggi di dunia dan tidak semua wasit bisa terpilih untuk tugas di ajang ini,” kata Wahyana saat dihubungi, Selasa (3/8).

Bukan perjalanan singkat baginya untuk bisa memimpin laga di ajang sekelas Olimpiade. Butuh tahun demi tahun agar bisa mengantongi lisensi dari Badminton World Federation (BWF) sebagai syarat utamanya.

Wahyana terjun ke dunia perwasitan tepok bulu usai memutuskan untuk tak melanjutkan kariernya sebagai pemain voli. Dibekap cedera panjang, dirinya lantas banting profesi menjadi guru olahraga di SMP Negeri 4 Patuk, Gunungkidul, DIY.

Di masa-masa itu pula, Wahyana pernah menjadi hakim garis tingkat kabupaten selama 1998-2000. Tahun-tahun berikutnya, pria yang kini berusia 54 tahun ini mulai menempuh ujian demi ujian guna memperoleh lisensi wasit. Mulai dari level kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.

“Nah dari lisensi dan pengalaman yang sudah saya miliki karena sudah cukup lama juga saya menjadi wasit internasional terhitung mulai 2006, maka boleh dikatakan saya merupakan salah satu wasit senior di dunia,” klaimnya.

Wahyana dinyatakan lulus ujian akreditasi wasit tingkat Asia pada 2006. Prestasi ini membawanya menuju level selanjutnya yaitu sertifikasi wasit yang akhirnya didapat dua tahun berselang.

Empat tahun setelahnya, Wahyana lulus ujian akreditasi wasit tingkat BWF dan baru pada 2016 dirinya melewati ujian sertifikasi BWF.

Banner Live Streaming MotoGP 2021

Bermodal sederet sertifikat itu, Wahyana memimpin semua turnamen bergengsi. Mulai dari PON, Sudirman Cup, Thomas dan Uber Cup, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, hingga terbaru Olimpiade. Terhitung sudah ada sekitar 77 caps internasional yang dilakoninya.

“Dari 77 atau 78 (caps) itu, sebanyak 99 persen saya tugasnya sampai final,” tutur pria yang berdomisili di Sidomulyo, Godean, Sleman.

Baca lanjutan berita ini di halaman berikutnya…

Hanyut dalam Rivalitas Dua Raja


BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Contact Us

Contact us

FAQ

Advertise with us

About Us

Cookie Policy

Terms & Condition