4 August 2021 : 02.27

Windy Cantika, Warisan Mama dan Cedera Jelang Olimpiade

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram
Share on facebook

Jakarta, CNN Indonesia —

Sebelum saya meraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 dari cabang angkat besi kelas 49kg putri, saya bergelut dengan banyak perasaan.

Ketika ingin bertanding, saya memiliki perasaan aneh. Rasa aneh itu lebih kepada suasana pertandingan saja.

Ini kan Olimpiade pertama saya, perdana bagi saya tampil di ajang yang seperti ini. Jadi berbeda dengan tempat-tempat pertandingan sebelumnya.

Ketika pemanasan di belakang panggung juga waktunya tidak lama, singkat banget. Awalnya tuh saya pikir waktu pemanasan bisa agak luang. Tetapi ternyata waktunya agak cepat, jadi tidak ada jeda istirahat.

Jadi waktu naik ke panggung buat bertanding itu sudah ngos-ngosan. Yang dirasa aneh itu karena dari stadion yang sebegitu besar, cuma panggung kita doang yang terang.

Biasanya sih dari yang Windy rasakan setiap ikut kejuaraan enggak seperti itu suasananya. Entah karena pandemi Covid-19 juga mungkin, jadi tempat-tempat lain di luar panggung kita itu suasananya gelap.

Waktu itu semua lampu tertuju ke panggung pertandingan saja. Selain itu saya kan juga belum pernah ke tempat pertandingan. Selama di sana cuma di tempat latihannya saja. Apalagi saat itu saya tampil pertama juga, jadi enggak sampai kepikiran yang lain-lain, fokus ke pertandingan saja.

Tokyo 2020 Olympics - Weightlifting - Women's 49kg - Medal Ceremony - Tokyo International Forum, Tokyo, Japan - July 24, 2021. Gold medalist Hou Zhihui of China, Silver medalist Mirabai Chanu Saikhom of India and Bronze medalist Windy Cantika Aisah of Indonesia pose. REUTERS/Edgard GarridoWindy Cantika (kanan) sempat waswas tidak bisa berangkat ke Olimpiade Tokyo karena cedera. (REUTERS/EDGARD GARRIDO)

Bukannya karena tidak ada briefing, tapi setiap atlet kan ada taktiknya, jadi bisa mengecoh atlet lain. Karena kondisi tersebut, jadi persiapan saat pemanasan di belakang panggung terburu-buru.

Misalkan ada atlet yang angkatan awal itu seharusnya 80kg, tapi justru ambil 83kg. Seharusnya dengan 83kg itu masuknya sudah dua kali angkatan, tapi hanya dihitung satu angkatan.

Taktik-taktik seperti itu yang akhirnya berakibat ke persiapan setiap atlet sewaktu pemanasan. Saya sendiri sempat merasa kesulitan dengan kondisi tersebut.

Karena kita lifter yang seharusnya bisa tenang dan fokus ketika di panggung dan siap melakukan angkatan, ini malah masih ngos-ngosan. Situasi seperti itu yang membuat kita sulit mendapatkan fokus.

Akhirnya waktu angkatan snatch, karena masih kaget saya cuma berhasil satu kali saja, dua lainnya gagal. Cuma begitu clean and jerk, karena sudah melihat situasi dan kondisi di arena pertandingan jadi dapat semua angkatannya.

Tetapi, tidak perlu disesalkan. Apalagi sudah diberikan rezeki mendapatkan medali perunggu, jadi tinggal disyukuri saja.

Meski saya masih di awal-awal karier angkat besi, tapi saya merasa cukup banyak cerita yang dilalui untuk meraih perunggu Olimpiade ini.

Sebelum berangkat saja saya mengalami cedera. Lima hari jelang keberangkatan itu Windy sempat tidak bisa jalan karena tulang kering kanan tertimpa besi.

Jadi waktu itu masih pemusatan latihan di Jakarta, karena kan ingin berangkat ke Tokyo. Saat itu Windy sedang sakit pinggang, hamstring juga, sakit bahu juga.

Atlet angkat besi Indonesia Windy Cantika Aisah mengangkat beban dalam pertandingan Angkat Besi 49Kg Wanita kategori Clean And Jerk SEA Games ke-30 di Stadion RSMC Nino Aquino, Manila, Filipina, Senin (2/12/19). Windy Cantika Aisah berhasil mengangkat total beban tertinggi 190Kg sehingga meraih medali emas. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/ama.SEA Games 2019 jadi salah satu tahap Windy Cantika Aisah meraih perunggu Olimpiade. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Awalnya bahu itu dikira bisa ikut menahan beban, tapi enggak tahunya tidak bisa dan akhirnya jatuh ke depan. Begitu jatuh kaki kanan ini belum dirapikan, karena sedang latihan angkatan clean and jerk, jadi tulang kering kena.

Tim pelatih tahu saya sakit saat latihan itu. Tetapi, saat itu kan tidak ada lagi istilah waktu untuk penyembuhan. Waktu untuk Olimpiade sudah begitu dekat, jadi memang harus agak sedikit memaksa.

Saya merasa takut tidak bisa berangkat ke Olimpiade, deg-degan juga. Tapi ya dijalani dengan ikhtiar pengobatan saja. Cederanya dikompres tiga jam sekali dengan didampingi ofisial.

Untuk menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran itu hanya pemulihan saja sambil mendengarkan ceramah, banyak-banyak zikir, dan salat.

Alhamdulillah tiga hari sebelum berangkat sudah cukup pulih. Tapi sebenarnya begitu sampai di Tokyo masih terasa juga sakitnya. Waktu berlatih juga masih terasa.

Jadi akhirnya ketika tampil di panggung saya masih menahan sakit juga. Tapi dengan mendapatkan perunggu pada Olimpiade Tokyo ini ya saya hanya bisa mensyukuri saja, alhamdulillah.

Apalagi Windy awalnya kan tidak ditarget mendapatkan medali di Olimpiade Tokyo ini. Karena, Windy itu istilahnya mencari tiket Olimpiade dari usia 16 waktu awal masuk Pelatnas.

Mencari tiket dari usia 16 itu seperti hal yang tidak mungkin untuk lolos ke Olimpiade. Akan tetapi, waktu kejuaraan di Korea Utara pada 2019 (Asian Youth and Junior Weightlifting), tim pelatih sudah berhitung. Kalau Windy dapat emas di SEA Games 2019, Windy bisa masuk ke delapan besar atau bahkan lima besar di Olimpiade.

Sampai akhirnya setelah melewati berbagai kejuaraan seperti Kejuaraan Dunia di Thailand, lalu di Kejuaraan Asia di Thailand, kejuaraan di Uzbekistan juga, akhirnya Windy bisa ke Olimpiade dan mendapatkan perunggu.

Baca kelanjutan berita ini pada halaman berikutnya>>>

Windy: Saya Sangat Bersyukur dengan Medali Perunggu


BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Contact Us

Contact us

FAQ

Advertise with us

About Us

Cookie Policy

Terms & Condition